Kiat Memulihkan Trauma Masa Lalu

Posted under Artikel on : 12/02/2015 12:18:48

Bonnie adalah anak seorang Ayah yang keras dan kasar. Saat remaja Bonnie berulang kali melarikan dari rumah untuk menghindari kekejaman ayahnya yang suka memukul anak-anaknya. Bahkan Bonnie pernah mencoba bunuh diri dengan Silet dengan tujuan supaya dia bisa lari dari siksaan ayahnya. Karena gagal bunuh diri, maka dia pun memberanikan diri kabur dari rumah dan tinggal di rumah konselornya. Hal yang melukai Boonie adalah sering kali sang Ayah menyiksa anak-anaknya dengan menggunakan nama Tuhan.
Limabelas tahun diperlukan Bonnie untuk mendapatkan kembali pemulihannya. Bonnie akhirnya dibantu lewat proses konseling. Untuk memulihkan trauma masa lalunya, Bonnie dan konselornya melakukan beberapa hal.
Pertama, Bonnie menyadari bahwa jiwanya haus dan lapar akan cinta dan kasih sayang. Konselornya menolong Bonnie membuat daftar heart-warmer (orang-orang yang menghangatkan hatinya). Dalam daftarnya ada beberapa guru di sekolahnya, teman-teman, seorang pelatih, atasan yang baik hati.
Kedua, kemudian Bonnie memilih satu keluarga angkat yang dapat memberinya kehangatan dan kasih sayang. Dia memilih geografi atau tempat tinggal yang baik buat dirinya. Dia pindah ke kota kecil dan menemukan pekerjaan yang sangat disukainya, atasan yang memperhatikan dan menolongnya.
Ketiga, sangat hati-hati mencari suami, dia sangat seleksi sahabat yang menyukainya. Akhrnya ia menikah dengan Trevor. Pernikahannya dengan Trevor memper-baharui hidup Bonnie. Kasih sayang Trevor yang bisa diandalkan terbukti menjadi obat manjur bagi semua peng-aniayaan di masa kecil yang mengerdilkan semangatnya. Pernikahan yang baik terbukti merupakan obat manjur bagi pe-mulihan masa lalu kita. Bonnie juga menemukan kasih yang berlimpah-limpah dari keempat anaknya. Bagi mereka, Bonnie adalah matahari yang menghangatkan dunia karena terus memberikan semangat, perhatian, bimbingan dan sukacita untuk hidup. Hati anak-anaknya bersukacita menikmati bagaimana ibunya membesarkan mereka.

Pohon Keluarga yang Busuk dan yang Baik
Penelitian Harvard’s Study of Adult Development (penelitian tentang Perkembangan Orang Dewasa) yang dilakukan selama 60 tahun (1920-1980) menemukan bahwa mereka yang di masa kecilnya tumbuh tanpa kasih sayang ternyata: Lima kali lebih banyak menderita gangguan kesehatan-jiwa, termasuk depresi dan kecanduan obat-obatan. Selain itu mereka cenderung memilih hidup me-nyendiri, dan memisahkan diri dari persahabatan. Ditemukan juga mereka tiga kali lebih banyak yang meninggal sebelum usia tujuh puluh lima tahun dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya bahagia, dan meninggal karena perilaku tidak sehat termasuk karena bunuh diri.
Sebaliknya anak-anak dengan masa kecil bahagia ternyata pada masa pertumbuhannya terlindung dari depresi dan adiksi di masa dewasa serta gangguan mental lainnya. Para lulusan Harvard dengan masa kecil bahagia itu, bukan hanya hidup lebih lama dibandingkan mereka yang tidak dikasihi, tetapi kehidupan mereka juga lebih kaya dengan hubungan (relasi) dan sukacita. Mereka lima kali lebih suka melakukan olahraga yang sifatnya bersaing, bermain-main dengan teman, dan berlibur. Mereka jauh lebih bisa menyeimbangkan antara tugas dan kewajiban dengan melakukan rekreasi yang menyenangkan.
Mereka yang dibesarkan tanpa kasih sayang, sering akhirnya hidup tanpa teman, sedangkan mereka yang memiliki masa kecil bahagia nampak senang menjalin dan membangun hubungan serta mendapat banyak sukacita karena pertemanan.
Jika pendidikan anak di masa kecil dibarengi dengan kasih sayang, maka anak cenderung berkembang dengan baik dan memiliki gejolak emosi yang stabil serta mempunyai fisik dan mental yang sehat. Beverly juga menegaskan dalam bukunya, banyak di antara mereka yang mengalami trauma masa kecil karena tidak punya figure ayah/ibu, punya pergumulan pribadi yang hebat untuk mengenal siapa sesungguhnya Allah.

Memutuskan Rantai
Pohon keluarga yang rusak bisa dipulihkan. Yang penting Anda bersedia memutuskan untuk tidak mengadopsi “buah busuk” dari generasi sebelumnya; kemudian mencangkokkan diri pada pohon yang baru. Kita harus berani mengambil keputusan untuk menjadi generasi yang memutus rantai dari kebiasaan lama. Ambillah dan tegaskan komitmen dalam diri kita, “Berhenti di aku saja. Saya tidak lagi akan menyiksa diriku sendiri atau membuat orang lain berjalan timpang.”
Keputusan ini seperti memberikan hadiah tak ternilai bagi diri Anda sendiri. Ini adalah sebuah warisan berharga bagi anak-anak dan cucu kita. Untuk itu kita perlu mengerahkan semua kekuatan emosi, spiritual. Dengan demikian anak-anak kita akan makin baik, terus sampai keturunan selanjutnya.

Julianto Simanjuntak